Senin, 22 April 2013

KATA KERJA OPERASIONAL (KKO)


KATA KERJA OPERASIONAL (KKO) EDISI REVISI TEORI BLOOM

Oleh Aprianto
Widyaiswara BDK Padang


RANAH KOGNITIF
Mengingat
(C1)
Memahami
(C2)
Menerapkan
(C3)
Menganalisis
(C4)
Mengevaluasi
(C5)
Menciptakan
(C6)
1
2
3
4
5
6
Mengenali
Mengingat kembali
Membaca
Menyebutkan
Melafalkan/melafazkan
Menuliskan
Menghafal
Menjelaskan
Mengartikan
Menginterpretasikan
Menceritakan
Menampilkan
Memberi contoh
Merangkum
Menyimpulkan
Membandingkan
Mengklasifikasikan
Menunjukkan
Menguraikan
Membedakan
Mengidentifikasikan
Melaksanakan
Mengimplementasikan
Menggunakan
Mengonsepkan
Menentukan
Memproseskan


Mendiferensiasikan
Mengorganisasikan
Mengatribusikan
Mendiagnosis
Memerinci
Menelaah
Mendeteksi
Mengaitkan
Memecahkan
Menguraikan
Mengcek
Mengkritik
Membuktikan
Mempertahankan
Memvalidasi
Mendukung
Memproyeksikan

Membangun
Merencanakan
Memproduksi
Mengkombinasikan
Merangcang
Merekonstruksi
Membuat
Menciptakan
Mengabstraksi









RANAH AFEKTIF
Menerima
(A1)
Merespon
(A2)
Menghargai
(A3)
Mengorganisasikan
(A4)
Karakterisasi Menurut Nilai (A5)
Mengikuti
Menganut
Mematuhi
Meminati

Mengompromikan
Menyenangi
Menyambut
Mendukung
Menyetujui
Menampilkan
Melaporkan
Memilih
Mengatakan
Memilah
Menolak
Mengasumsikan
Meyakini
Meyakinkan
Memperjelas
Memprakarsai
Mengimani
Menekankan
Menyumbang
Mengubah
Menata
Mengklasifikasikan
Mengombinasikan
Mempertahankan
Membangun
Membentuk pendapat
Memadukan
Mengelola
Menegosiasi
Merembuk
Membiasakan
Mengubah perilaku
Berakhlak mulia
Mempengaruhi
Mengkualifikasi
Melayani
Membuktikan
Memecahkan


RANAH PSIKOMOTOR
Meniru
(P1)
Manipulasi
(P2)
Presisi
(P3)
Artikulasi
(P4)
Naturalisasi
(P5)
Menyalin
Mengikuti
Mereplikasi
Mengulangi
Mematuhi
Kembali membuat
Membangun
Melakukan, Melaksanakan, Menerapkan

Menunjukkan
Melengkapi Menunjukkan, Menyempurnakan Mengkalibrasi Mengendalikan
Membangun
Mengatasi Menggabungkan Koordinat, Mengintegrasikan Beradaptasi Mengembangkan Merumuskan, Memodifikasi
Master
Mendesain
Menentukan
Mengelola
Menciptakan




ASESMENT KINERJA


ASESMENT KINERJA
   
 PENGANTAR
Asesmen kinerja yaitu penilaian terhadap proses perolehan penerapan pengetahuan dan keterampilan melalui proses pembelajara yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses dan produk. Asesmen kinerja pada prinsipnya lebih ditekankan pada proses keterampilan dan kecakapan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Assesmen ini sangat cocok digunakan untuk menggambarkan proses, kegiatan, atau unjuk kerja. Proses, kegiatan, atau unjuk kerjadinilai melalui pengamatan terhadap siswa ketika melakukannya. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Misal penilaian terhadap kemampuan siswa merangkai alat praktikum untuk percobaan sederhana dilakukan selama siswa merangkai alat, bukan sebelum atau setelah alat dirancang.   
 URAIAN MATERI
            Asesmen ini melibatkan aktivitas siswa yang membutuhkan unjuk keterampilan tertentu dan atau penciptaan hasil yang telah ditentukan. Karena itu metodologi asesmen ini memberi peluang kepada guru untuk menialai pencapaian berbagai hasil pendidikan yang sebenarnya tidak dapat dijabarkan dalam tes tertulis. Melalui metodologi ini, asesmen kinerja memungkinkan guru mengamati siswa saat siswa sedang bekerja atau melakukan tugas belajar, atau guru dapat menguji hasil-hasil yang dapat dicapai, serta menilai (judge) tingkat penguasaan/kecakapan yang dicapai siswa.
            Asesmen kinerja tidak hanya bergantung pada jawaban yang benar atau salah. Sebagaimana halnya dengan asesmen bentuk esay, observasi yang dilakukan oleh guru dalam rangka melakukan pertimbangan-pertimbangan subyektif dengan level prestasi yang dicapai siswa. Evaluasi ini didasarkan pada perbandingan kinerja siswa dalam mencapai standar excellent (keunggulan prestasi) yang telah dicapai sebelumnya. Sebagaimana tes essay, pertimbangan guru diguanakan sebagai dasar penempatan kinerja siswa pada suatu kesatuan atau kontinum tingkatan-tingkatan prestasi yang terentang mulai dari tingkatan yang sangat rendah sampai tingkatan yang sangat tinggi.
            Hal-hal yang harus kita pahami tentang asesmen kerja adalah kita mendesain dan mengembangkan asesmen kerja untuk di gunakan kelak dikelas kita sendiri. Metodologi asesmen kerja bukanlah suatu obat yang mujarab, bukan penyelamat guru, dan buakn merupakan suatu kunci untuk menilai kurikulum yang sebenarnya. Asesmen ini semata-mata merupakan alat yang diberikan cara-cara yang efesien dan efektif untuk menilai beberapa (bukan keseluruhan) hasil-hasil dari proses pendidikan yang dipandang berguna.
            Berdasarkan cara melakasanakan asesmen kinerja, dapat dikelompokkan menjadi:
o   Asesmen kinerja klasikan digunakan untuk mengakses kinerja siswa secara keseluruhan dalam suatu kelas keseluruhan
o   Asesmen kinerja kelompok untuk mengakses kinerja siswa secar berkelompok
o   Asesmen kinerja individu untuk mengakses kinerja siswa secara individu

Pada pelaksanaannya, guru dapat mengatur secara fleksibel kinerja-kinerja yang akan diakses dalam kurun waktu tertentu. Misalnya dalam dua semester guru merencanakan untuk mengakses keterampilan setiap siswa dalam membuat larutan. Guru merencanakan dalam dua semester tersebut empat kali kegiatan yang menuntut siswa membuat larutan. Maka guru dapat membagi siswa dalam empat kelompok siswa yang akan diases. Siswa kelompok pertama akan diases pada kegiatan pembuatan arutan pertama. Kelompok berikutnya diases pada pembuatan larutan berikutnya. Sehingga setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk dinilai keterampilannya dalam membuat larutan. Asesmen kinerja yang digunakan oleh guru tersebut adalah asesmen kinerja individu.
Untuk merealisasikan asesmen kinerja ini, dimulai dengan membuat perencanaan asesmen kinerja yang meliputi tiga fase penting, yaitu:
·           Fase 1: mengidentifikasikan kerja. Pada tahap ini ditentukan apa jenis yang ingin dinilai. Misalnya kemampuan untuk menggunakan mikroskop dapat diurai menjadi: membawa mikroskop dengan benar, menggunakan lensa dengan pembesaran kecil lebih dahulu, mengatur pencahayaan, memasang preparat, dan memfokuskan bayangan benda
·           Fase 2: mendesain latihan-latihan kinerja. Setelah kinerja yang akan dinilai ditentukan tahap berikutnya adalah menyediakan pembelajaran yang memungkinkan aspek kinerja yang akan dinilai dapat muncul. Misalnya guru akan menilai kemampuan menggunakan mikroskop, maka KBM yang dipersiapkan adalah praktikum dengan menggunakan mikroskop
·           Fase 3: melakukan penskoran dan perekaman/pencatatan hasil
Asesmen kinerja bersifat lugas (fleksibelitas) dalam pengembangan bagian-bagiannya, tetapi ada beberapa yang perlu diperhatiakan yaitu ketika meninjau faktor-faktor konteks dalam rangka pengambilan keputusan tentang kapan mengadopsi metoda-metoda assesmen kinerja. Pada dasarnya faktor-faktor utama yang dipertimbangkan dalam proses seleksi assesmen sesuai dengan sasaran prestasi untuk siswa dan juga assesmen kinerja.
Dalam klasifikasi kinerja, pemakai bebas memilih dari suatu rentangan sasaran prestasi yang mungkin, dan asesmen kinerja dapat difokuskan pada sasaran-sasaran khusus dengan mengambil tiga keputusan desain: merumuskan jenis kinerja yang dinilai, mengidentifikasi siapa yang akan dinilai, dan menetapkan kriteria kinerja.
Kegiatan dalam komponen pengembangan latihan harus dipikirkan hal-hal yang menyebabkan siswa melakukan perbuatan tertentu yang dapat merefleksikan tingkat penguasaan/kecakapan/prestasi yang dicapai. Karena itu, dalam hal ini harus dipertimbangkan hakekat latihan, banyaknya latihan yang dibutuhkan, dan petunjuk-[etunjuk aktual bagi siswa untuk melakukan latihan tersebut.
Dlaam hal penskoran, penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang agar faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya-tidak) atau skala rentang (sangat baik-baik-agak baik-tidak baik).
Pada penialian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, siswa mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, siswa tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adlaah penilai hanya memiliki dua pilihan mutlak, misalnya benar-benar salah, dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian nilai tengah tidak ada. Penilaian unjuk kerja menggunakan skala rentang memungkinkan penialai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinuum dimana pilihan kategori nilai lebih dari dua.
Beriut ini adalah contoh asesmen kinerja dalam menggunakan mikroskop dengan teknik penilaian daftar ceklis
No.
Aspek Penilaian
Skala
Ya
Tidak
1
Membawa mikroskop dengan benar


2
Lensa dengan pembesaran kecil lebih dahulu


3
Mengatur pencahayaan


4
Memasang preparat


5
Memfokuskan bayangan benda




ASESMEN PROTOFOLIO

ASESMEN PROTOFOLIO

A.     PENGANTAR
Salah satu prinsip penilaian adalah bersifat menyeluruh artinya menyangkut semua aspek kepribadian siswa yakni aspek produk dan proses belajar. Penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa dapat dijaring melalui berbagai asesmen. Asesmen portofolio merupakan asesmen otentik yang menggambarkan kemampuan belajar siswa sengan bukti-bukti yang diseleksi bersam oleh siswa dan guru.
B.     URAIAN MATERI
            Bukti-bukti yang dikumpulkan dalam portofolio merupakan hasil seleksi bersama antar siswa dan guru yang dianggap karya terbaik dan berarti bgai siswa. Kumpulan karya siswa yang akan dikumpulakn sebgaai dokumen portofolio terlebih dahulu direviu oleh guru, sehingga bersama guru siswa dapat menentukan bukti-bukti nyata yang menggambarkan perkembangan dirinya. Contoh pekerjaan siswa ini memberikan dasar bagi pertimbangan kemajuan belajarnya dan dapat dikomunikasikan kepada siswa, orangtua serta pihak yang berkepentingan.
            Portofolio sebagai asesmen otentik dapat diguanakan untuk berbagai keperluan, yaitu mendokumentasikan kmajuan siswa selama kurun waktu tertentu, mengetahui bagian-bagian yang perlu diperbaiki, membangkitkan lepercayaan diri dan motivasi untuk belajr, mendorong tanggungjawab siswa untuk belajar
            Keuntungan portofolio sebagai asesmen otentik antara lain sebagai berikut:
1.      Kemajuan belaja siswa dapat terlihat jelas, misalnya serangkaian kumpulan jurnal dan laporan percobaan siswa dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan gambaran mengenai kemajuan siswa dalam membuat laporan
2.      Menekankan pada hasil pekerjaan terbaik siswa dapat serta memberikan pengaruh positif dalam belajar. Seleksi karya terbaik siswa melibatkan siswa sehingga siswa merasa dihargai
3.      Membandingkan pekerjaan sekarang dengan yang lalu memberikan motivasi yang lebih besar daripada membandingkan dengan pekerjaan orang lain
4.      Siswa dilatih untuk menentukan karya terbaik
5.      Memberikan kesempatan kepada siswa bekerja sesuai dengan perbedaan individu
6.      Dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa kepada siswa itu sendiri, orangtua, serta pihak lain yang terkait.


Guru dapat mengumpulkan portofolio melalui berbagai cara. Cara yang dipaki harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, tingkatan siswa, dan jenis kegiatan yang dilakukan.
Berikut ini adalah model portofolio IPA SD ynag berisi contoh pekerjaan siswa
1.      Hasil ulangan
2.      Uraian tertulis hasil kegiatan percobaan sederhana
3.      Gambar-gambar dan laporan lisan
4.      Produk berupa hasil pekerjaan proyek
5.      Laporan kelompok dan foto kegiatan siswa
6.      Respon terhadap pertanyaan open-ended atau masalah pekerjaan rumah
7.      Salinan piagam penghargaan

Selanjutnya contoh-contoh pekerjaan tersebut disimpan dalam satu tempat khusus (file folder) untuk setiap siswa. Ketika diperlukan, portofolio siswa dapat dengan mudah digunakan. Kejujuran siswa dalam melaporkan rekaman dan dokumentasi belajarnya serta kejujuran guru dlam menilai kemampuan siswa sesuai dengan yang telah disepakati merupakan syarat dilaksanakannya asesmen portofolio.
Ada pun bentuk-bentuk asesmen portofolio diantaranya sebagai berikut:
1.      Catatan anekdotal, yaitu berupa lembaran khusus yang mencatat segala bentuk kejadian mengenai perilaku siswa. Khususnya selama berlangsungnya proses pembelajaran. Lembaran ini memuat identitas yang diamati, waktu pengamatan, dan lembar rekaman kejadiannya
2.      Ceklis atau daftar cek, yaitu daftar yang telah disusun berdasarkan tujuan perkembangan yang hendak dicapai siswa
3.      Skala penilaian yang mencatat isyarat kemajuan perkembangan siswa
4.      Respon-rspon siswa terhadap pertanyaan
5.      Tes skrining yang berguna untuk mengidentifikasi keterampilan siswa setelah pengajaran dilakukan, misalnya tes hasil belajar, PR, LKS, laporan kegiatan lapangan.

Jenis bukti yang dikumpulkan dalam portofolio bergantung pada tujuan portofolio itu sendiri. Misalnya di kelas 1 SD siswa belajar sains dengan beberapa kompetensi diantaranya siswa mengenal anggota tubuh manusia melalui pengamatan gambar, siswa mengetahui fungsi masing-masing anggota tubuh, serta siswa dapat mengidentifikasi cara memelihara kesehatan anggota tubuh. Untuk mengumpulkan bukti bahwa siswa telah menguasai ketiga komponen tersebut, jenis portofolio yang dikumpulkan harus mengacu pada ketiga komponen tersebut. Misalnya laporan lisan siswa tentang kebiasaannya menggosok gigi di rumah merupakan bukti kompetensi ketiga.
Terdapat tiga langkah dalam menerapkan portofolio yaitu:
1.      Tahap persiapan yang meliputi:
a.       Menentukan jenis portofolio yang akan dikembangkan
b.      Menentukan tujuan penyusunan portofolio
c.       Emilih kategori-kategori pekerjaan yang akan dimasukkan portofolio
d.      Meminta sswa untuk memilih tugas-tugas yang akan akan dimasukkan portofolio
e.       Guru mengembangkan rubrik untuk menyekor pekerjaan siswa. Rubrik merupakan kriteria penilaian yang menjadi patokan dalam menentukan kualitas portofolio. Rubrik dapat disepakati bersama oleh guru dan siswa.

2.      Mengatur portofolio
Portofolio diatur sesuai kesepakatan selama satu semester. Siswa harus diinformasikan bahwa semua tugas atau beberapa tugas tersebut akan dijadikan bukti portofolio. Tugas-tugas yang dijadikan dokumen harus sesuai tujuan portofolio kemudian ditata dan diorganisir sesuai dengan ciri khas pribadi masing-masing. Portofolio dapat disimpan dalam folder khusus untuk setiap siswa. Setiap bukti pekerjaan siswa yang masuk dan telah dipilih diberi tanggal.

3.      Pemberian nilai akhir portofolio
Bagian akhir yaitu menilai portofolio yang lengkap. Aspek yang dinilai meliputi isi portofolio dan kelengkapan portofolio, meliputi pemberian sampul nama pengembang dan perencana (siswa dan guru), daftar isi serta refleksi diri.
CONTOH IMPLEMENTASI PORTOFOLIO
Mata pelajaran             : SAINS
Kelas/semester            : 1(satu)/gasal 2007
Sekolah                       : SD laboraturium UPI
Langkah-langkah penyusunan portofolio
a.       Persiapan, meliputi:
·         Menentukan jenis portofolio yang akan dikembangkan yaitu portofolio individu.
·         Menentukan tujuan portofolio yaitu mengetahui gambaran perkembangan pemahaman siswa tentang sains , mengetahui peningkatan aktifitas belajar siswa , serta mengetahui perkembangan kemandirin siswa dalam mengajarkan tugas-tugas sains.
·         Memeilih kategori-kategori pekerjaan yang akan dijadikan dokumen bukti portofolio, misalnya hasil test formatif, hasil observasi guru tentang aktifitas belajar, hasil pengamatan guru tentang kemandirian , hasil wawancara guru dsb.
·         Meminta siswa untuk memilih tugas-tugas yang akan dimasukan dalam portofoio.
·         Guru mengembangkan rubik untuk menyekor pekerjaan siswa. Rubik merupakan criteria penilaian yang menjadi paokan dalam menentukan kualitas portofolio.
·         Memutusan bagaimana penilaian portofolio yang sudah lengkap dan terorganisasi dengan baik (nilai akhir portofolio).
b.      Mengatur portofolio
Siswa mengumpulkan dan mengkoleksi portofolio selama satu semester. Tgas-tugas yang akan dijadikan bukti dalam portofoli dimasukan dalam file folder. Setiap bukt yang dikumpulkan harus diberi tanggal. Selanjutnya siswa menata dan mengorganisir tugas-tugas yang sudah terkumpul . untuk kelas satu dapat dibantu oleh guru.
c.       Memutuskan bagaimana portofolio tersebut dinilai. Penilaian akhir portofolio meliputi si yang mengacu pada rubik yang telah dibuat.